Rabu, 15 Januari 2014

Jadikan Maulid Momentum Koreksi Misi Keumatan




Imam Besar Masjid Besar Istiqlal, Ali Mustafa Yaqub mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw harus dimaknai sebagai koreksi misi keumatan umat Islam saat ini. Menurut dia koreksi keumatan ini penting untuk memaknai kembali pesan Rasulullah Saw.
"Di momentum Maulid Nabi Muhammad SAW kita harus mulai mengoreksi diri apakah misi keumatan kita sudah sesuai dengan misi kerasulan yang dibawa oleh Rasulullah," ujar Ali, Selasa (14/1/2014).
Ali mengatakan, Rasulullah Saw sudah memberi sinyal akan datang dimana umat Islam tidak lagi menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan dan Islam sebagai pegangan hidup. Menurutnya umat Islam harus waspada jika peringatan Rasulullah Saw tersebut terjadi pada kita.
“Untuk itu introspeksi misi keumatan penting, apakah selama ini secara pribadi telah menjadi makmum yang benar dan mengikuti misi kerasulan Muhammad Saw. Atau malah sebaliknya, kita telah menelantarkan syariat dan anjuran Rasulullah, mengikuti hawa nafsu. Dan hanya menjadikan maulid dan ibadah sebatas ritual dan seremonial," tuturnya.
Dia mengimbau umat Islam agar memilih pemimpin yang ideal atau mendekati ideal dari sisi kualitas kepemimpinan dan keagamaan. Ia pun meminta umat Islam tidak antipati memilih pemimpin, karena ini demi kepentingan umat Islam yang mayoritas di Indonesia.
Hal senada di sampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Yunahar Ilyas. "Maulid adalah momentum kembali meneladani akhlak Rasulullah," ujarnya.
Selain itu, menurut dia di momentum maulid dan jelang pemilu mendatang, adalah pesan penting bagi umat Islam memilih pemimpin yang bisa meneladani sifat Rasulullah. Diantaranya, shiddiq atau berintegritas, amanah atau memiliki kredibiltas, tabligh atau komunikatif serta dekat dengan rakyat dan fathanah atau kreatif dan inovatif.
"Umat Islam harus bisa menentukan pemimpin yang sangat peduli dengan kesejahteraan rakyatnya, tidak mementingkan diri sendiri," ujar Yunahar.[as]
Sumber: Republika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar