Jumat, 17 Januari 2014

Empat Golongan yang Dirindukan Surga




Oleh : Rahmat Kurnia Lubis*

Rindunya surga kepada empat golongan tak kalah hebat dengan seorang pemuda yang sedang kasmaran, rindu ingin bertemu dengan orang yang dirindukannya. Dimana saja, kapan saja yang diingat adalah sang pujaan hati, siang jadi kenangan, malam jadi bayangan, tidur pun jadi impian. Begitu juga surga, surga selalu merindukan empat golongan, padahal kalau kita tanya setiap orang pasti ingin masuk surga, walaupun dia seorang pendosa atau ahli maksiat sekalipun, siapapun kita, pada strata sosial manapun, apapun profesinya, di bumi manapun berpijak pasti ingin menjadi orang yang dirindukan oleh surganya Allah SWT. Tempat yang diidam-idamkan oleh seluruh makhluk Allah, tempat yang tidak terdengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna, sia-sia dan dusta. Di dalamnya ada mata air yang mengalir, takhta-takhta yang ditinggikan, gelas-gelas berisi minuman yang terletak dekat, bantal-bantal sandaran yang tersusun, permadani-permadani yang terhampar, kebun-kebun dan buah anggur, gadis-gadis remaja yang sebaya.

Tidak ada kesusahan karena itu hanya tempatnya kesenangan atas balasan yang kita lakukan di alam dunia, semuanya setiap keinginan kita tercipta. Sudah bisa kita bayangkan tentang surga?, dan hasilnya itu belumlah apa-apa, alias belum mampu menggambarkan surga yang sesungguhnya, karena apa yang kita bayangkan hanyalah pikiran manusia saja, surga itu tidak pernah bisa di bayangkan, karena sesuatu hal yang bisa dibayangkan bukanlah surga. Yang kita pikirkan itu adalah gambaran mini dari pada sebuah kesenangan, karena pikiran dan logika kita hanya mampu menampung suatu hal yang bisa di gambarkan, dan surga itu jauh dari pada itu semua. Itulah hakikat tempat yang paling indah bagi kehidupan.

Surga itu adalah tempat kenikmatan yang kekal sempurna, yang tidak ada didalamnya kekurangan sama sekali. Surga disediakan Allah SWT bagi mereka yang mentaati perintah-Nya. Allah SWT dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Abu Khurairah menyampaikan “ Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shaleh segala sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia”. Itulah sejatinya surga yang diabadikan oleh Allah SWT. Dan Allah pun berfirman dalam Al-Qur'an.

الجنة أعدت للمتقين
"Surga disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”
Walaupun orang itu wajahnya jelek, hidupnya miskin, pakaiannya murah, rumahnya gubuk lagi butut, tapi kalau bertakwa dia akan masuk surga, karena surga rindu ingin dimasuki oleh empat golongan ini, Rasulallah Saw di dalam kitab Durrathun Naashihin menyampaikan.

الجنة مشتقة الى اربعة نفر : تالى القران وصوم رمضان وحفظ اللسان ومطعم الجيئان
"Surga itu rindu kepada empat golongan, yaitu orang yang membaca Al-Qur'an, orang yang puasa di bulan Ramadhan, orang yang menjaga lisan, dan orang yang memberi makanan kepada yang kelaparan".

Pertama, orang yang senantiasa membaca Al-Quran. Al-Quran sebagai wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw yang menjadi pedoman bagi setiap umat manusia. Jika satu buku memiliki suatu nilai manfaat dari setiap isinya, maka Al-Quran jauh lebih banyak memiliki manfaat dan menjadi tuntunan hidup atau pegangan manusia. Apakah kita menyadari di antara deretan huruf yang jumlahnya lebih kurang 6666, 30 juz dan 114 surat, yang  jika dibacakan hati menjadi tenang, bisa dengan mudah di hafal oleh semua kalangan bahkan anak-anak sekalipun, mempunyai nilai sastra yang sangat indah, mengandung peristiwa masa lalu, begitupun masa depan, tuntunan ibadah berupa syariat yang di tetapkan oleh Allah SWT, bahkan banyak rahasia science terungkap karenanya. Jika bukan campur tangan Allah SWT yang menyampaikan kalimat dan maknanya niscaya ia akan usang di telan waktu. Tapi bahkan sampai saat ini Al-Quran kitab yang sudah belasan abad ini masih tetap utuh, tidak ada perubahan akan isinya. Karena ia memang di jaga oleh Allah SWT melalaui lidahnya para huffaz (penghafal Al-Quran).

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Quran, seorang muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penelitian ini berikutnya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Al-Quran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberitahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Quran. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Quran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Quran. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Quran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Quran.

Secara keduniawian bahwa tidak ada sesungguhnya hal yang membuat seseorang sulit untuk membaca Al-Quran, bahkan efek dari Al-Quran itu sendiri yang mampu memberikan nilai positif baik dalam hal kesehatan fisik, ketenangan jiwa, kemampuan berpikir, dan penemuan penelitian yang tiada akhirnya dari kitab bernama Al-Quran ini. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
“Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah Ta’ala, sedang mereka membaca kitab-Nya dan mengkajinya, melainkan mereka akan dilimpahi ketenangan, dicurahkan rahmat, di kelilingi para malaikat, dan di puji oleh Allah di hadapan para makhluk dan di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud).

Al-Quran adalah kitab yang disampaikan oleh Allah SWT sebagai pedoman menyimpan banyak kebaikan dari dunia sampai akhirat, jika kita menjadi orang yang berbangga dengan Allah, mengkaji kitab-Nya, dan mengajarkannya maka itu adalah sebaik-baik manusia. Dengan membaca dan mempelajari Al-Quran berarti kita telah menjalankan syiar Islam. Al-Quran tentunya bukan untuk dipajang dalam rak saja, atau dibutuhkan saat kematian saja, tapi ia adalah sesuatu hal yang seharusnya hidup di setiap waktu di rumah setiap muslim. "Perumpamaan rumah yang didalamnya ada dzikrullah. dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah (laksana) perumpamaan antara yang hidup dengan yang mati". Bukan hanya sebatas identitas sebagai seorang beragama, tapi ia merupakan kebutuhan jiwa manusia, dan ketika sesering mungkin dari mulut seorang hamba keluar bacaan Al-Quran maka Allah akan senantiasa mencintai-Nya dan surga pun merindukannya.
Kedua, penjaga lidah. Memang lidah tak bertulang tapi ia lebih tajam dari sebilah pedang, dampaknya bisa mengakibatkan peperangan yang semula damai menjadi konflik. Efek negatifnya akan membuat orang menjadi sengsara, akan melenyapkan pahala kebaikan yang kita buat seperti api memakan kayu bakar, akan membuat puasa jadi hampa dan sia-sia. Namun bila kita menjaganya, begitu banyak kenikmatan akan kita raih, dengan lisan kita berdakwah, dengan lisan kita bertilawah, dengan lisan kita berdo'a. Lisan yang baik adalah ketika ia berkata-kata yakni dengan kata yang penuh dengan ‘ibrah, santun dan penuh dengan ajakan kebaikan serta jauh dari ghibah, fitnah, menggunjing dan berbohong. Maka benar kata-kata bijak dari ulama bahwa :
 ألسّلامة الإنسان في حفظ اللّسان
Artinya: “Keselamatan manusia terletak pada penjagaan lisan nya”.

Lisan yang baik senantiasa tahu bagaimana harus berbicara baik, terhadap lawan bicaranya,  tidak pernah membuat orang merasa tersakiti dengan bahasa kita, terkadang orang menyampaikan bahwa bicaranya memang keras, tapi perlu kita garisbawahi bahwa keras ataupun kuat belum tentu menyakitkan, dan suara yang hanya sekedar keras mungkin bisa saja karena bawaan lingkungan geografis, namun jika suara sudah menyinggung perasaan, mencela, dan menghinakan orang lain, maka itu tragedi bagi kehidupan manusia, tragedi tersebut adalah di dunia tidak akan selamat, senantiasa di jauhkan orang lain, tidak di berikan kesempatan, apalagi di akhirat yaitu balasan karena prilaku manusia itu sendiri. Bahkan dalam tataran sebuah birokrasi pemerintahan di butuhkan juru bicara yang menyampaikan pesan dengan santun. Orang yang berbicara santun, mampu mendamaikan, berdiplomasi untuk sebuah kemakmuran akan lebih di cintai dari pada mulut yang menimbulkan fitnah dan perkataan kotor, semakin orang sering berkata kotor semakin menumpulkan hati, dan membuat manusia jauh dari kebaikan.

Ketiga, pemberi makan orang yang kelaparan (dermawan). Sungguh, Allah yang Maha Rahman, Rahim, Maha Pemberi, dan hakim yang paling adil itu akan membalas sekecil apapun kebaikan kita kepada orang lain. Bila kita memberi minum kepada saudara kita yang kehausan maka Allah akan memberi kita minum pada hari kiamat nanti di saat orang-orang sedang dilanda dahaga. Bila kita memberi makan kepada saudara kita yang sedang kelaparan, niscaya Allah akan memberi kita makan di saat orang-orang kelaparan pada hari akhir nanti. Bila kita memberi pakaian kepada saudara kita di dunia ini, niscaya Allah akan memberi kita pakaian yang indah di saat orang-orang telanjang pada hari perhitungan nanti, bila kita memudahkan urusan saudara kita yang sedang kesulitan dan dihimpit permasalahan, maka  Allah akan memudahkan urusan kita sejak di dunia ini. Pertolongan Allah akan datang kepada seorang hamba manakala sang hamba menolong saudaranya. Hal ini merupakan akhlak yang sering dicontohkan oleh para sahabat-sahabat nabi, yaitu memberi kepada orang yang lapar, orang yang butuh, dan orang yang kesusahan. Mereka para rasul, para nabi, para khalifah, dan imam dalam Islam memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap semua golongan, karena bagi mereka membantu, memberi, dan bersikap bijak adalah bagian yang menjadi karakteristik sejati seorang muslim beragama.

Keempat, orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Di bulan yang mulia yang penuh berkah, rahmat, ampunan, Allah menjanjikan kepada kita akan pembebasan dari panasnya api neraka. Puasa menjadi tolak ukur keberadaan seorang hamba, karena dengan puasa yang benar, Ramadhan yang di manfaatkan, akan banyak kebaikan yang di peroleh di dalamnya, dalam puasa melatih kejujuran, antara manusia dengan manusia lainnya, antara seorang hamba kepada Tuhan-Nya, dan di bulan puasa menjadi tempat yang baik untuk beramal karena setiap amal dilipatgandakan, bahkan malam lailatul qadr ada di antaranya. Melatih kepekaan sebagaimana yang dirasakan orang-orang yang kurang mampu agar kita bisa hidup saling berbagi, bagaimana menahan lapar dan haus, serta bagaimana implikasi iman tersebut di luar Ramadhan bisa bertahan dan di jalankan, Ramadhan adalah tempat melatih semua kepekaan yaitu emosional, kecerdasan, dan spiritual di didik untuk menjadi manusia yang lebih manfaat. Jadi orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan memiliki semangat, motivasi, dan perubahan berarti menuju arah yang lebih baik dalam hidupnya maka tentunya Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan dan perjuangan hamba tersebut.

Namun pada akhirnya secara konkrit Allah SWT kembali menyampaikan dalam Al-Quran berdasarkan surat Al-Mukminun ayat 1-11 sebagai penghuni surganya yaitu:
  1. Pegawai yang jujur.
  2. Pemimpin yang adil.
  3. Orang yang mempunyai ilmu, lalu ilmunya tersebut dibagikan kepada orang lain.
  4. Orang kaya yang pemurah/dermawan
  5. Orang miskin yang sabar.
  6. Orang kuat yang melindungi orang lemah.
  7. Anak yang berbakti kepada orang tua dan guru.
  8. Istri yang taat kepada suaminya.
  9. Suami yang bertanggung jawab.
  10. Orang yang mencintai masjid, senang berpuasa dan membaca Al-Quran.
Sebenarnya cukup mudah menilai diri kita sendiri, apakah kemudian sudah adil, sudah khusyu, sudah ikhlas, sudah mau berkorban, dan mencintai Al-Quran?. Yang paling mengetahui itu tentunya diri kita sendiri dengan Allah SWT. jika kita sudah ikhlas dan mau beramal surga maka tentunya surga pun akan merindukan kita. Surga itu bukan hanya untuk satu orang, milik kelompok tertentu atau golongan tertentu, tapi Allah memperuntukkannya bagi manusia dari timur hingga ke barat dari manusia pertama hingga terakhir. Syaratnya hanya tunduk patuh kepada perintah Allah SWT, beramal sholeh, bermanfaat buat orang lain, dan ikhlas kepada-Nya. Hanya tiga syarat menuju surga tersebut.


*Penulis Adalah Alumni Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar