Kamis, 13 Desember 2012

Pemerintah Mesir dan Oposisi Sama-Sama Tidak Mau Mengalah


Meski didemo ratusan ribu warganya Presiden Mesir Muhammad Morsi tetap tak bergeming dari pendirianya, Presiden yang terpilih setelah revolusi Mesir tersebut tidak mau menarik Dekritnya sebelum ada undang-undang baru. Morsi menganggap undang-undang yang lama merupakan penyebab terjadinya berbagai tindak kekerasan di Mesir.

Morsi juga menolak sebutan para demonstran yang menyebut dirinya sebagai fir’aun Mesir, menurutnya dia sendiri pernah dipenjara gara-gara membela para hakim dan para penegak hukum.
Dalam wawancaranya dengan majalah Time (salah satu majalah mingguan Amerika Serikat) Morsi menegaskan bahwa dia sangat paham fungsi masing-masing lembaga dan pemisahan antara lembaga Eksekutif, Legeslatif dan Yudikatif. Dia juga menyadari bahwa rakyat merupakan pelaku utama pemerintahan, bahwa Presiden merupakan perwakilan dari lembaga Eksekutif dan dipilih oleh rakyat, saya akan menjamin kebebasan penuh bagi rakyat dalam berbagai pemilihan umum, saya juga menjamin pemindahan kekuasaan berjalan sesuai perinsip yang jujur dan adil, saya juga telah berkunjung ke Amerika Serikat, Eropa dan Negara-negara Timur dan saya tahu bagaimana semua itu terlaksana. Jika sudah ada undang-undang yang baru maka secara otomatis dekrit tersebut tidak berlaku lagi.

Di pihak lain, Sabahi salah seorang pimpinan oposisi mengingatkan pemerintah bahwa sikap tidak peduli terhadap tuntutan rakyat untuk menarik Dekrit Presiden akan membuat dekrit tersebut tidak berlaku secara otomatis, dan akan diadakan voting untuk membatalkannya.

Sementara itu, demonstrasi menolak dekrit tersebut semakin meluas dan merembet ke berbagai provinsi di Mesir, bahkan di sebagian daerah terjadi bentrok antara pendukung Morsi dan pihak oposisi. Bentrok yang sangat dahsyat terjadi di daerah Damanhur Provinsi Baherah, Daqahliyah, Gharbiyah dan Bur Sa’id.
Sedangkan di depan Kedutaan Amerika Serikat para demonstran bentrok dengan aparat keamanan, untuk membubarkan para demonstran yang sedang marah itu aparat kepolisian menyemprotkan gas air mata, dan memasang kawat berduri di atas pagar kedutaan Amerika demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. (Absyaish).

Sumber: Lazuardi Birru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar