Kamis, 06 Desember 2012

Kurikulum Antiradikalisme Belum Dibutuhkan


Saat ini Kementerian Pendidikan Kebudayaan sedang menggodok rumusan kurikulum untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. Sempat muncul isu akan diselenggarakan kurikulum khusus antiradikalisme. Hal Itu menyikapi beberapa hasil penelitian yang menyatakan banyak siswa tingkat menengah yang setuju dengan aksi-aksi kekerasan, dan sebagian lain bahkan setuju dengan aksi teror.

Namun Dr. Irwan Baadila, M.Pd, anggota Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai, saat ini kurikulum antiradikalisme masih belum penting dalam konteks Indonesia. Pasalnya, peran organisasi kemasyarakatan (Ormas) dalam menangkal radikalisme sudah cukup kuat. Selain itu, sebenarnya proses pendidikan di sekolah hanya sebagian dari keseluruhan proses pendidikan anak.

“Ormas tinggal didorong untuk memberikan penangkalan yang lebih kuat terhadap radikalisme. Sementara di sekolah, ajaran-ajaran seperti toleransi, kemajemukan, musyawarah bisa disisipkan dalam pelbagai mata pelajaran,” ujarnya kepada Lazuardi Birru di Kampus UHAMKA Pasar Rebo Jakarta, Rabu (28/11/2012).
Lebih lanjut, menurut pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UHAMKA ini, radikalisme tidak dipicu oleh faktor tunggal, agama Islam misalnya. “Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. Dalam pelajaran agama Islam, guru dapat menegaskan bahwa kekerasan dalam berdakwah bukan ajaran Islam,” tandasnya.

Kendati demikian, lanjut mantan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini, secara teoretis sebetulnya setiap kurikulum pendidikan dibuat untuk mencapai output yang mau dicapai.
“Jika output yang mau dicapai adalah siswa memiliki sikap toleransi sosial yang kuat misalnya, bisa saja diadakan program khusus antiradikalisme untuk men-drill itu,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pendidikan sebenarnya adalah proses rekayasa agar anak dapat menjadi lebih baik. Namun sebagai ruang rekayasa, sekolah formal hanya memeroleh waktu 7-8 jam. Dalam konteks rekayasa, hal itu tidak cukup. Ada banyak waktu di mana anak didik bisa direkayasa oleh keluarga atau lingkungan sosial.

“Maka dalam hemat saya, yang terpenting dilakukan adalah kurikulum dasar pendidikan karakter terutama untuk tingkat pendidikan dasar dan keluarga. Itu sebagai basis pembentukan karakter. Sehingga di tingkat menengah dan tinggi nantinya, anak sudah mempunyai filter yang kuat,” paparnya.

Sumber: Lazuardi Birru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar