Rabu, 06 Maret 2013

Kurikulum Orangtua untuk Anak




Seorang ibu menulis di jejaring sosial, ia khawatir masa depan anaknya menghadapi Kurikulum 2013.

Apalagi ia baru saja menerima pesan dari senior, ”Jangan harap anak-anak bisa hebat seperti generasi kita.” Lewat tengah malam, karangannya diunggah melalui ponsel pintar. Dalam sekejap komentar berdatangan. Semua datang dari orangtua sibuk yang baru bisa menulis tengah malam.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum sekolah yang belum tentu berhasil (kalau tak ada kerja sama), apalagi pada tahun-tahun awal. Namun, bukankah kita hidup dalam peradaban continuous improvement?

Ibarat membangun gedung tinggi, tak akan pernah jadi bila galian fondasi berantakan.
Pantas ibu tadi gelisah. Anaknya akan memasuki ”pintu awal kekacauan” dari sebuah perubahan yang belum tentu berhasil pula. Apalagi bila yang mengganggu lebih banyak daripada yang membantu. Di peradaban sosial media, kita sudah saksikan lebih banyak orang iseng ketimbang yang benar-benar memikirkan perubahan. Tambahan lagi, orangtua tak punya waktu mendidik anaknya.

Sekolah adalah sebuah ”kawah penggodokan”, tetapi harap maklum ia hanya salah satu dari tiga pilar pendidikan selain orangtua dan lingkungannya.

Tiga Jalur Belajar

Ibu tadi gelisah karena ia berasumsi masa depan anaknya 100 persen di tangan sekolah. Orangtua susah payah mengumpulkan uang, bekerja hingga larut malam, demi anak. Anak juga dikursuskan di berbagai tempat. Kebanggaan orangtua terletak saat anaknya dapat ranking teratas, nilai-nilainya 10 semua. Namun, si ibu lupa, sekolah hanya mengisi 30 persen dari ruang belajar anak. Dengan demikian, sekalipun mendapat nilai 10 dari sekolah, kalau nilai pendidikan dari orangtua dan lingkungan nol, anak hanya mendapat nilai setara 3,3.

Berbeda dengan anak tetangga yang nilai sekolahnya biasa-biasa saja, sebut saja 6, tetapi orangtua aktif mengajak jualan di warung. Ia bisa dapat nilai 8 dari orangtua (karena dibina langsung) dan 9 dari gemblengan lingkungan sehingga rata-rata jadi 7,67. Maka, anak yang di sekolah biasa-biasa saja bisa jadi sarjana hebat, ilmuwan gigih atau wirausahawan hebat. Sementara anak sekolah yang diberi predikat genius hanya bisa memajang ijazah, jadi ”penumpang” dalam kehidupan.

Jadi, Kurikulum 2013 hanya sepertiga dari seluruh kurikulum kehidupan. Bagi saya, penyederhanaan mata ajar bukanlah musibah, melainkan tuntutan untuk memberi ruang anak mengasah kreativitas dan cara berpikir yang lebih simpel agar lebih siap menerima edukasi orangtua dan lingkungan. Masalahnya, sudah siapkah orangtua dan lingkungan mendidik anak-anaknya?

Laporan Guru

Bangsa besar tak akan membiarkan generasi penerusnya dibesarkan dalam lingkungan kacau. Karena itulah, sejak Confusius, bangsa-bangsa Asia percaya keluarga adalah alat pendidikan yang penting. Oleh karena itu, gelisahlah orangtua-orangtua yang tak mengerti cara membuat kurikulum bagi anak-anaknya, apalagi bila tak punya waktu. Orangtua bisa mendesain kurikulum anak dengan memerhatikan aspek-aspek perkembangan anaknya yang berbeda dengan anak lain. Jadi, kalau mau berubah, Kurikulum 2013 tidak boleh tanggung-tanggung. Harus ada program yang jelas pada orangtua, termasuk mendesain dan eksekusi kurikulum untuk anak di rumah, beserta pembaruan laporan kemajuan belajar (rapor).

Adalah tak tepat memberi laporan kemajuan belajar semata-mata menulis angka. Orangtua butuh laporan verbal tentang kemajuan anaknya, menyangkut upaya, kemajuan, disiplin, partisipasi terhadap diskusi, pergaulan, minat, kepatuhan, kreativitas, metodologi, hubungan vertikal-horizontal, sikap-sikap sosial, dan sebagainya. Saya menemukan laporan seorang guru pada salah satu mata ajar yang diajarkan di sekolah anak saya (grade 12) di Selandia Baru seperti ini: ”Anak Anda mengalami kemajuan yang pesat meski awalnya terlihat bingung dan frustrasi. Ia terlihat kesulitan mengikuti dan memahami arahan yang diberikan dan harus lebih terbuka terhadap saran-saran yang saya berikan. Namun, ia seorang pembelajar yang antusias dan tahu apa yang ia sukai. Mendalami riset hal-hal kontemporer akan membantu masa depannya untuk menemukan lebih banyak ide dan tema-tema tulisan, juga mempertajam daya kritisnya dalam komposisi. Jika ia ingin terus mendalami topik ini....”

Saya kira, sebagai orangtua, saya akan paham membuat kurikulum orangtua kalau membaca laporan seperti itu. Lagi pula apa guna mengetahui anak kita berada di nomor berapa di kelas bila kita tak tahu apa yang harus diperbaiki. Saya berharap banyak pada Kementerian Pendidikan untuk terus memperbaiki kelemahan-kelemahan kurikulum yang dirancangnya. Namun, saya juga berharap banyak dari orangtua agar turut mengisi kekurangan pada anak-anaknya, yang kelak akan bertemu kami di tingkat universitas.


Rhenald Kasali  
Guru Besar FEUI
Sumber: Kompas, 05 Maret 2013

(Kliping Opini)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar