Rabu, 13 Februari 2013

Intoleran Belum Tentu Teroris, Namun Harus Diwaspadai



Banyak hasil penelitian dan survei yang mengatakan bahwa intoleransi merupakan pintu masuk seseorang untuk menjadi teroris. Namun hal ini dibantah Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq. Menurut dia, intoleransi dan terorisme merupakan dua hal yang berbeda.

“Meskipun antara intoleransi dan terorisme memiliki titik temu, namun kedua hal itu bebada,” kata lulusan CRCS UGM ini pada Lazuardi Birru, di Jakarta.

Menurut Fajar, meskipun keduanya memiliki korelasi, namun dari sisi pengkondisian berbeda. Karena itu, kata dia, harus hati-hati membedakan antara intoleransi dan terorisme. Fajar mengatakan, tingkat tingginya intoleransi tidak berkonsekuensi atau berelasi dengan tingginya terorisme.

“Bahwa orang-orang yang terlibat terorisme itu intoleran, itu iya. Tapi belum tentu orang yang sikapnya intoleran, dia teroris,” demikian Fajar menjelaskan.

Lebih jauh Fajar mengatakan, ada beberapa fase orang yang intoleran bisa menjadi teroris. Menurut dia, orang menjadi teroris tidak hanya persoalan ideologi semata, tapi banyak faktor yang mempengaruhi. “Orang yang melakukan kekerasan pun tidak bisa disebut teroris. Karena itu kejahatan biasa,” ungkapnya.

Jadi, kata Fajar, antara sikap intoleran yang melakukan tindakan kekerasan atas nama agama dan terorisme itu adalah dua hal yang berbeda. “Terorisme itu orang yang tidak bisa menerima perbedaan, dan menebar teror dengan cara pengeboman. Namun orang yang punya sifat intoleran itu belum tentu melakukan teror dengan cara pengeboman,” pungkasnya.[Az].


Sumber: Lazuardi Birru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar