Senin, 11 Februari 2013

Akmil Afghanistan Tidak Mendidik Teroris



Ahmad Sajuli, Ketua Forum Komunikasi Eks Afghanistan Indonesia (FKEAI).

Tujuan petinggi Darul Islam (embrio Jamaah Islamiyah) mengirimkan kadernya mengikuti pelatihan militer di Afghanistan sejak 1985 hingga awal dasawarsa 1990-an adalah menyiapkan pasukan perang untuk melakukan revolusi melawan pemerintah Orde Baru.

Maksud tersebut tak pernah terlaksana. Rezim Orba tumbang karena aksi massa yang dipelopori mahasiswa, bukan kekerasan bersenjata. Alih-alih melawan Soeharto, sebagian alumni Akmil Afghanistan justru berkamuflase menjadi teroris di bumi pertiwi pascareformasi.

“Sebenarnya itu asumsi yang salah. Hanya segelintir ikhwan yang melakukan teror, kami semua terkena getahnya. Akmil Afghanistan tidak mendidik kami jadi teroris yang merusak negeri sendiri,” ungkap Ahmad Sajuli, alumni Akmil Afghanistan Angkatan 1987, kepada Lazuardi Birru.

Menurut pria asli Jakarta yang kini menjadi Ketua Forum Komunikasi Eks Afghanistan Indonesia (FKEAI) itu, selama masa pendidikan di Akmil tersebut, ia tidak hanya belajar seputar penggunaan dan perakitan senjata, namun ada pula materi pelajaran tauhid, sejarah Islam, fiqih, dan lainnya.

“Kami diajari fiqih jihad, di situ ada etika berperang di mana kita tidak boleh membunuh anak, warga sipil non kombatan, binatang, serta merusak pepohonan,” tandasnya.

Dalam hemat Sajuli, Islam adalah agama yang mengayomi. Maka dalam berjihad pun, lanjutnya, seorang mujahid diharamkan sembarangan bertindak. Jihad harus berada di wilayah perang.

“Kami juga diajarkan untuk ikhlas berjihad agar jika meninggal kami termasuk syahid. Diceritakan pada zaman Rasullullah, ada seseorang yang dianggap syahid karena mati dalam peperangan. Namun menurut Rasulullah tidak syahid karena dia mengikuti perang agar bisa mati syahid dan orang-orang tahu kalau dia berstatus syahid. Intinya dia berjihad karena riya’ ” terang dia. (fiq).

Sumber: Lazuardi Birru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar