Kamis, 31 Januari 2013

Wilayah Konflik Komunal Meluas



Tren kekerasan horizontal dan konflik komunal pada tahun ini cenderung meluas lantaran tidak lagi didominasi oleh ‘area-area merah’ yang dikenal memiliki sumbu konflik yang khas, seperti Aceh, Papua, Poso dan Ambon. Peta persebaran daerah konflik merambat pada wilayah-wilayah yang memiliki banyak sumber daya alam ataupun tingkat perpaduan migrasi dan struktur sosial yang berbeda.

“Konflik komunal yang terjadi di Lampung, Kutai Barat, Sigi, dan lain-lain bisa diidentifikasi dari pendekatan aktor berbasis teritorial, isu identitas sosial dan budaya, pilkada, dan lain sebagainya,” demikian siaran pers LSM KontraS dalam rangka peringatan HAM se-dunia yang jatuh pada 10 Desember.

KontraS mencatat, sepanjang 2012 tercatat terjadi 32 kali ketegangan konflik  -selain dari kasus persekusi dan aksi tawuran pelajar dan mahasiswa.

Pemicu-pemicu yang muncul adalah mis-komunikasi pada isu sengketa lahan -termasuk juga dengan model kebijakan pembangunan yang tidak berimbang, ketidakpuasan warga atas praktik penegakan hukum, peristiwa-peristiwa kriminal, beredarnya pesan-pesan provokatif, dan dendam-dendam konflik lama yang belum tertuntaskan.

Sementara itu laporan lain yang disampaikan peneliti The Habibie Center, Inggrid Galuh Mustikawati, menyatakan korban akibat tindak kekerasan di Indonesia kian meningkat pada periode tahun 2012.
“Periode Januari-April terjadi 2.563 insiden, 314 korban tewas, 2.135 orang cedera, 325 kasus perkosaan, dan 696 bangunan rusak,” papar Inggrid, seperti dikutip Republika Online, Senin (10/12/2012).

Ia menjelaskan, jika periode Januari-April 2012, isu yang menonjol adalah insiden kekerasan pilkada Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan sengketa tanah di Maluku Utara, Maka, periode selanjutnya isunya bergeser pada isu identitas dan sumberdaya.

Dibanding periode sebelumnya, imbuh Inggrid, periode ini jumlah kekerasan identitas meningkat lebih dari dua kali lipat dan dampak tewas akibat isu sumberdaya meningkat empat kali lipat.
Hasil penelitian The Habibie Center di sembilan daerah yaitu NAD, Kalimantan Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulaweai Tengah, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jabodetabek periode Mei-Agustus 2012, mencatat 2.344 insiden kekerasan yang mengakibatkan 291 orang tewas, 2.406 cedera, dan 272 bangunan rusak.

Dari total insiden itu, konflik kekerasan mendominasi dengan terjadi 1.516 kasus. Persoalan kriminalitas sebanyak 601 insiden, harga diri sebanyak 495 insiden, dan main hakim sendiri sebanyak 380 insiden. (fiq).



Sumber: Lazuardi Birru

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar