Selasa, 04 Februari 2014

Manisnya Negeriku



Oleh : Rahmat Kurnia Lubis*
 
Memang manis manis gula gula. Begitu juga negeri kita tercinta. Banyak suku suku dan budaya. Ada Jawa Sumatera sampai Papua. Semuanya ada di sini. Hidup rukun damai berseri seri. Ragam umat umat agamanya. Ada Islam ada Kristen Hindu Buddha. Semuanya ada di sini. Bersatu di Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia negara kita tercinta. Kita semua wajib menjaganya. Jangan sampai kita terpecah bela. Oleh pihak lainnya. Pancasila dasar negara kita. Dengan UUD empat limanya. Jangan sampai kita diadu domba. Oleh bangsa lainnya.

Kutipan tersebut di atas merupakan lirik lagu seorang Pujiono. Walau harus tereliminasi, namun ia telah menjadi pemenang sebelum juara. Mari kita rehat dan hilangkan kekakuan. Tidak perlulah kita mengaum bak Singa agar di anggap hebat, juga tidak perlu harus jadi orang besar agar bisa menuangkan ide dan kreatifitas. Mulailah dan berikanlah hal yang memberi makna. Pujiono yang Asal Cilacap ini hanya Pengamen Jalanan mampu menyihir kekakuan, dan sekat di antara kita. Memberi dengan hati akan menempel di hati, berikanlah dengan kata dan hal sederhana yang mampu memberi inspirasi dan manfaat buat orang lain. Nasionalisme terbangun. Kekakuan jadi mencair, ketengan dan perseteruan menjadi damai dengan kesejukan. Dalam hidup ini tidak ada yang abadi, maka lakukanlah dan sepanjang sejarah masih terus bergulir jangan hanya menebar isu, menyampaikan bahasa kekerasan, fitnah atau gunjingan terhadap orang lain, tapi apa yang bisa di lakukan segeralah. Mulailah dari hal kecil, dari sebuah diri, memberikan arti dan positif bagi diri dan orang lain, dari keluarga sederhana, dan tempat lingkungan kita bekerja. Jangan hanya sebatas kewajiban kita mengambil peran dalam kehidupan ini, tapi ikhlaskanlah karena itu memang akan lebih berarti buat Indonesia Raya. Inilah yang di namakan kekhusyukan, karena jika makan hanya sebatas makan kera di hutan juga makan, dan jika hanya kerja sebatas kerja maka babi hutan juga bekerja. Inilah pernyataan seorang ulama yang kritis yaitu Buya Hamka. Allah SWT bahkan dengan tegas memberikan perumpamaan dalam al Quran :


“Terangkanlah kepadaKu tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya. Atau apakah kamu mengira bahawa kebanyakan mereka itu mendengar dan memahami, mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu.” (Al-Furqan, 25: 43-44)

Saat ini banyak orang yang telah pesimis akan arti sebuah hidup, ingin cepat melanggeng ke surga, mencoba merevolusi semua hal yang tidak sesuai dengan pikirannya. Jika kita ingin lebih mengetahui kenapa kemudian Allah SWT menciptakan segala sesuatu itu dengan tahapan, seperti misalnya bahwa penciptaan alam semesta melalui enam fase, proses penciptaan makhluk yang tidak langsung jadi, begitupun dengan manusia tidak di ciptakan satu agama, satu kitab dan satu budaya. Dia bahkan menyuruh untuk setiap manusia menikah bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa untuk kita bisa saling mengenal. Secara filosofis bahwa Allah sang Maha Agung ingin menjadikan manusia ini untuk dapat berfastabiqul khairat untuk kebaikan, peradaban, dan sebagai bentuk pengamanahan khalifatullah di muka bumi. Hidup ini adalah rangkaian yang tidak sekali jadi sebagaimana Allah SWT memberikan contoh dalam penciptaan yaitu proses, ini bukan berarti bahwa Allah SWT tidak kuasa. Dalam surat yasin disebutkan. 


“Innama amruhu idza arada syaian an yaqula lahu kun fayakun.” (Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah ia,” Qs. Yasin [36]:82).

Manusia itu harus melakukan sesuatu, ketika jatuh, bersabar, berbuat, dan terciptalah hasil. Allah SWT memberikan gambaran itu agar manusia tidak gegabah dan tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu tapi harus di pikirkan dan dilaksanakan secara bertahap. Bisa jadi jika hanya mengangkat pahala sebagai jalan menuju surga adalah sesuatu hal yang teramat berat untuk kehidupan manusia, tapi Allah tetap memberikan kesempatan itu bagi setiap hambanya. Allah SWT menilai dari hati dan apa yang kita kerjakan. Untuk urusan akhirat Dia lah sang agung yang lebih adil dalam memberikan penilaian terhadap para hambanya, namun langkah yang salah kemudian adalah jika tujuan kita hanyalah surga, banyak orang berjihad karena ingin surga, tidak sedikit orang yang bernegara, memimpikan jadi pemimpin untuk jadi terkenal. Dan berwibawa. Sungguh itu adalah pemikiran yang salah. Hal terbaik bagi seorang manusia adalah melakukan sesuatu yang baik dan benar karena landasan Ilahi Rabbi, inilah puncak niatan yang tertinggi, karena jika kita sudah di ridhai Allah SWT maka tidak ada lagi kekhawatiran untuk di caci di jatuhkan dan di benci. Jika semua manusia ingin menjatuhkanmu di atas dunia ini, jika bukan karena kehendak Allah maka tidak akan pernah goyah dan jatuh walau sesaat pun, demikian juga jika semua manusia di permukaan bumi menyanjung dan mengangkat anda jadi penguasa namun jika bukan atas kehendak Allah SWT tidak akan bisa menjadi penguasa. Jadi yang lebih indah dalam hidup ini adalah keikhlasan karena dalam keikhlasan itu tidak ada tuntutan lebih, kecuali hanya ingin bekerja, beramal karena Allah untuk manusia dan untuk sang pencipta.

Rabiatul Adawiyah seorang sufistik yang sangat mencintai Tuhan-Nya mengatakan bahwa “Jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu”. Allah SWT dalam al Quran menyebutkan : “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti labah-labah yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah labah-labah kalau mereka mengetahui.” (Al-‘Ankabut, 29: 41)

Antara agama dan Negara adalah dua proses kehidupan yang harus di jalankan tanpa harus saling mengorbankan, karena keduanya merupakan unsur terpenting dalam kehidupan. Jika negara tidak ada maka kita menjadi bangsa yang tanpa wilayah dan tanah, bahkan negara menjadi tempat yang wajib di bela jika dalam kondisi perang. Mempertahankan negara merupakan bagian dari pada jihad. Memberikan yang terbaik bagi bangsa merupakan jihad sosial, dan beribadah kepada Allah SWT dengan menjadikan nya sebagai Tuhan tempat berlindung dan meminta pertolongan merupakan anugerah dan hidayah yang luar biasa, mari bernegara tumbuhkan jiwa nasionalis dalam diri dan jadikan Allah sebagai tujuan hidup yang memberikan kedamaian dan ketenangan buat semua.

Penulis Adalah Alumni Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar