Kamis, 22 November 2012

Ustaz Bobby: Terorisme Perbuatan Dosa Besar



Di dunia ini, sebenarnya tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan, apalagi tindakan terorisme. Semua agama mengajarkan perdamaian dan kasih sayang. Meskipun dalam Alquran ada ayat yang menjelaskan perang atau permusuhan, tentu hanya dalam konteks tertentu, kondisi ketika Islam diusir dari kampung halamannya.

Wacana ini membuka obrolan Lazuardi Birru dengan Ustaz H Bobby Herwibowo, Lc, Pengasuh Majelis Kauny Center, di Jakarta Timur. Ustaz Bobby, biasa ia dipanggil, mengutip ayat Alquran yang secara eksplisit menjelaskan bahwa umat Islam diperbolehkan berbuat baik, dan berlaku adil pada kelompok lain.
Seperti yang terdapat dalam surat Al Mumtahanah, ayat 8, yang artinya “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

Baru kemudian, lanjut Ustaz Bobby, pada ayat selanjutnya, yaitu surat Al Mumtahanah, ayat 9 Allah berfirman, yang artinya “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Secara eksplisit Alquran sebagai sumber ajaran Islam menjelaskan bahwa Allah memperbolehkan dan memerintahkan umat Islam melakukan peperangan hanya ketika umat Islam diusir, diperangi, dan dijarah hartanya. Jadi, lanjut Ustaz Bobby, ayat Alquran yang menjelaskan tentang perang itu sifatnya defensif.
Namun, fakta di lapangan selama ini kelompok teroris melakukan aksinya dengan dalih agama, Anda melihatnya seperti apa?
Hemat saya, kalau targetnya masyarakat sipil, inosen (orang yang tidak bersalah, red), maka itu termasuk perbuatan dosa, bukan jihad. Bahkan, tergolong sebagai perbuatan dosa besar. Kebanyakan alasan mereka karena rasa kesal mereka pada Amerika atau Israil, tapi kenapa mereka justru melakukan tindakan kekerasan di Tanah Air yang damai ini?

Kalau mereka ingin berjuang, seharusnya mereka itu pergi ke Irak, berangkat ke Palestina, atau berangkat ke medan tempur yang sebenarnya. Di sana musuh mereka jelas, bukan warga sipil seperti halnya ketika mereka melakukan pengeboman di Indonesia. Karena kalau mereka melakukan di sini (Indonesia, red), yang menjadi korban adalah orang-orang yang tidak berdosa, bahkan umat Islam sendiri juga menjadi korban. Semua orang mengutuk tindakan mereka. Saya juga mengutuk perbuatan yang tidak berkeperimanusiaan tersebut.

Hal ini harus menjadi kontemplasi bagi kita semua, khususnya bagi mereka yang melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Bisa saja mereka melakukan perbuatan itu karena mereka salah dalam mempersepsikan agama, dan makna jihad. Bahkan, mayoritas umat Islam sangat menyesalkan perbuatan mereka. Jadi, sebenarnya tidak ada kepentingan agama sama sekali.

Terlepas dari itu semua, kekerasan dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan, karena kenyataannya sangat merugikan banyak hal, seperti nama baik agama, nama baik bangsa Indonesia.
Citra bangsa ini jelek gara-gara perbuatan segelintir orang tersebut, misalnya orang beranggapan tinggal di Indonesia tidak aman, dan investasi tidak jalan. Negara berdaulat adalah negara yang menciptakan keamanan, negara yang kuat adalah negara yang bisa menjaga keamanan negaranya sendiri.

Dalam Alquran ada ayat yang menjelaskan tentang jihad dalam arti perang. Ayat ini sering disalah gunakan oleh kelompok tertentu untuk memerangi kelompok lain yang tidak sepaham dengan mereka, bagaimana sebenarnya memahami ayat tersebut?
Kalau kita belajar Islam dari cara Nabi Muhammad SAW, maka kita akan mendapati jihad yang dilakukan beliau adalah jihad yang defensif, selalu membela harga diri, membela agama, membela Tanah Air. Itu semua dilakukan semata-mata karena dasar membela itu.

Kemudian, ketika Islam mulai berkembang, maka tujuan jihad yang dilakukan adalah hendak mengajak manusia kembali ke jalan Allah SWT, sehingga mereka semua kembali ke jalan Allah SWT.
Kalimat jihad yang betul adalah menjadi mukmin yang baik. Kita bisa lihat surat al-Hujurat, ayat 15 yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Karena itu, kalau kita ingin melakukan jihad sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasullulah SAW, maka lihatlah bagaimana cara Rasullulah melakukan jihad. Dalam melakukan jihad, Rasulullah SAW tidak pernah mengganggu orang lain. Bahkan, menggangu pepohonan, menggangu hewan, beliau tidak pernah melakukannya dalam jihad yang beliau lakukan.
Lalu, langkah apa yang bisa dilakukan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Islam, khususnya jihad?
Tidak ada manusia yang memiliki kebenaran mutlak. Allah SWT memerintahkan kita semua untuk berlomba-lomba mendapatkan kebenaran. Kebenaran itu banyak jalannya dan tidak ada manusia yang secara mutlak benar. Karena itu, ketika kita mengklaim bahwa pemahaman kita adalah pemahaman yang paling benar, maka sebenarnya kita sudah berbuat salah.

Dalam surat An-Najm, ayat 30 Allah SWT berfirman, yang artinya “Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Ayat tersebut menjelaskan, bisa saja bahwa pemahaman kita benar, tapi jangan sampai kebenaran itu membuat diri kita dengan mudah menyalahkan orang lain. Imam Syafi’i mengatakan bahwa pendapatku adalah benar, tapi mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah, tapi mengandung kemungkinan benar. Artinya, boleh jadi suatu saat saya benar dan suatu saat saya keliru, dan orang lain pun begitu.

Karena itu, mari kita menghargai pendapat orang lain, khususnya dalam urusan jihad. Misalnya kita ingin memahami tentang jihad, kita harus merujuk pada jihad yang dilakukan oleh Rasulullah. Kita tidak boleh mengklaim bahwa diri kita atau pemahaman kita tentang jihad yang paling benar.
Akibat kekerasan yang dilakukan kelompok yang tidak bertanggung jawab tersebut, citra  Islam tercoreng. Padahal kita tahu bahwa mayoritas umat Islam tidak menghendaki hal tersebut. Bagaimana komentar Anda?
Ketika kita beramal, maka jangan mengklaim bahwa amal itu adalah amal Islami, jangan kita memberi label bahwa ini adalah syariah, karena belum tentu apa yang kita lakukan ini sesuai dengan ketentuan syariah dan belum tentu juga apa yang kita lakukan ini sesuai dengan ridha Allah dan Rasulnya.

Hal tersebut pernah dilakukan oleh Abu Bakar ketika beliau mengutus sebuah syariah. Syariah adalah sebuah ekspedisi jihad yang tidak disertai khalifah di dalamnya. Jadi, ekspedisi ini yang di sebut syariah, dan setiap kelompok manusia harus menunjuk seorang pemimpin. Pemimpin atau panglimanya diberi wasiat oleh khalifah Abu Bakar.
Salah satu wasiat Abu Bakar berbunyi; “kalau engkau berjalan di muka bumi ini dan melakukan apapun, maka janganlah engkau mengatakan bahwa ini perintah Allah dan Rasulnya, karena bisa saja apa yang kita lakukan belum tentu sesuai dengan apa yang Allah dan Rasulnya inginkan”.

Artinya, apa yang kita lakukan ini adalah amal kita, tidak mengatasnamakan Allah dan Rasulnya. Jadi, apabila apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya, maka tidak akan mencoreng nama Allah dan Rasulnya.
Contoh di atas merupakan pelajaran yang sangat berarti bagi kita semua agar tidak mengklaim apa yang kita lakukan benar, dan yang dilakukan orang lain adalah salah. Praktik seperti yang  dilakukan Abu Bakar sangat cocok untuk diterapkan oleh umat Islam agar tidak mudah menyalahkan orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya.

*****
Pasca Bom Bali I 2002, pemerintah Indonesia sudah melakukan segala upaya untuk menanggulangi kejahatan yang tidak berkeperimanusiaan ini. Mulai dari penegakan hukum, sampai upaya preventif seperti program deradikalisasi.
Namun, upaya yang dilakukan oleh pemerintah itu tidak semua berjalan mulus seperti yang diharapkan. Indikasi tersebut bisa dilihat dari munculnya berbagai aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok baru, di luar jaringan yang sudah berhasil dilumpuhkan. Misalnya peristiwa bom bunuh diri di Mapolresta Ceribon dan Gereja Bethel Injel Sepenuh Kepunton, Surakarta, 2011.
Anda melihat langkah yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi aksi terorisme seperti apa?
Sebenarnya hal ini bukan tanggung jawab pemerintah semata, namun menjadi tanggung jawab kita semua, khususnya orangtua, guru, ulama, dan masyarakat secara umum.

Misalnya, level yang paling kecil dalam keluarga, seorang kakak harus bertanggung jawab terhadap adiknya, orang yang lebih dewasa harus bertanggung jawab kepada yang lebih muda, sehingga ketika tercipta tanggaung jawab di masing-masing level, maka secara otomatis menggerakkan masyarakat dan elemen bangsa ini menumbuhkan kasih sayang, menghormati sesama, bersikap toleran dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.
Semakin banyak elemen yang terlibat dalam mencegah terjadinya sikap intoleran, kekerasan dan terorisme, maka semakin mudah menyelesaikan persoalan tersebut.
Lalu, langkah apa yang perlu diambil pemerintah untuk lebih cepat menangani gejala terorisme ini

Saya kira sosialisasi. Sosialisasi tentang hidup damai, hidup tentram, dan hidup nyaman tanpa ada kekerasan. Saya yakin seluruh agama mendukung hal ini. Selanjutnya melakukan langkah preventif agar setiap bentuk radikalisme, terorisme yang merugikan masyarakat bisa secepatkan teratasi.
Pemerintah bisa melakukan hal itu sampai ke akar-akarnya. karena pemerintah memiliki otoritas, dan punya power untuk melakukannya. Kalau ada kelompok atau kajian yang bisa memunculkan paham radikalisme seharusnya bisa diantisipasi dari awal, sebelum karakter kekerasan mereka terbentuk.
Dalam hal ini pemerintah sudah mencanangkan program deradikalisasi. Bagaimana Anda melihat program ini?

Program ini bagus dan saya sangat mendukung. Karena memang perlu mengembalikan pemahaman agama dan jihad yang benar. Agama tidak pernah mengajarkan kekerasan, ia membawa kedamaian, ketenangan, dan kasih sayang.
Pemahaman bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan seharusnya bisa diwujudkan. Setiap anak bangsa harus dibekali pemahaman itu, sehingga pada akhirnya kita dapat melihat dan menyaksikan semua orang, semua anak negeri Indonesia mencintai perdamaian.
Menurut Anda konsep deradikalisasi yang efektif seperti apa?

Yang paling ideal program deradikalisasi ini diorientasikan pada ranah membuka wawasan umat Islam dengan mendalami Alquran sesuai dengan tuntunannya, memahami sunnah Rasul sesuai dengan praktik keagamaan yang dijalani oleh Rasullulah SAW.
Misalnya, Rasulullah SAW menghormati semua orang tanpa melihat latar belakangnya, dan tidak pernah memusuhi orang yang tidak sepaham dengan beliau. Pada satu ketika Rasullulah pernah bertamu ke rumah orang Yahudi, Rasullulah pernah meminjam harta dari orang Yahudi, Rasullulah pernah menggadai baju besinya pada orang Yahudi. Dari contoh ini, kita bisa melihat bahwa Rasulullah tidak pernah memusuhi orang lain yang berbeda agama.

Di level pendidikan, Anda melihat peran dunia pendidikan dalam mencegah radikalisme dan terorisme seperti apa?
Pertama, mengkaji gejala radikalisme, terorisme. Karena persoalan radikalisme dan terorisme bukan hal baru, hal itu sudah ada sejak dahulu. Kasus doktrin agama yang diselewengkan sudah banyak, sudah terjadi sejak masa silam. Jadi peran pendidikan harus menjelaskan gejala-gejala dari radikalisme dan terorisme ini.
Kedua, melakukan pencegahan atau upaya preventif. Jadi, tugas pendidikan melakukan upaya pencegahan secara dini, sebelum mereka tumbuh dan mengakar. Nah, hal tersebut bisa di lakukan perguruan tinggi.
Anda mengatakan bahwa pendidikan salah satu faktor penting menjawab persoalan radikalisme dan terorisme di Indonesia. Bisa dipaparkan langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam hal ini?

Dari dunia pendidikan kita bisa menerima perbedaan. Pendidikan ini bisa dimulai dari lingkungan keluarga. Misalnya seorang anak dalam keluarga diajarkan menghargai perbedaan dan mencintai sesama, maka pemahaman seperti itu akan berkembang sampai dewasa.
Pendidikan sebagai sarana untuk membentuk kesadaran seseorang harus difungsikan secara maksimal, dan diorientasikan pada ranah yang positif. Berikan pemahaman-pemahaman yang yang positif bahwa semua manusia harus saling menghormati, menghargai, dan menebar kasih sayang satu sama lainnya.
Jadi, pendidikan itu dimulai dari hal yang paling kecil. Begitu juga ketika anak didik tersebut belajar tentang ayat-ayat Alquran, jangan sampai pemahaman mereka hanya parsial, dan keliru dalam menafsirkan ayat-ayat yang berisi tentang jihad.

Lalu, bagaimana dengan pendidikan agama seseorang?
Pendidikan agama juga seperti itu. Jadi pendidikan agama yang paling nikmat adalah pendidikan agama yang sesuai dengan Alquran dan Hadis sebagai sumber utama. Misalnya Anda dari kecil diajarkan shalat subuh dengan memakai kunut, tiba-tiba Anda shalat di lingkungan Anda yang baru tidak ada kunut sama sekali, itu kan pertentangan luar biasa, kenapa? Karena Anda mendapatkan doktrin sejak kecil bahwa dari dulu saya begini, orangtua mengajarkan seperti ini. Begitu tidak sesuai dengan doktrin, maka Anda akan merasa curiga, merasa tidak adil, tapi begitu Anda melihat sumbernya bahwa Rasul pernah shalat dengan kunut dan Rasul juga pernah shalat tanpa kunut, artinya dua-duanya tidak masalah.
Karena itu, pendidikan agama yang kita pelajari harus benar-benar komperehensif, wawasan kita harus luas agar pemahaman kita tidak parsial dan mudah menyalahkan orang lain.[Aziz]
Biodata
Nama                                      : Bobby Herwibowo, Lc.
Tempat/Tanggal Lahir              : Jakarta, 11 Mei 1977
Pendidikan                              : S1 Fak. Syariah, Univ. Al Azhar, Cairo, Mesir
Email                                       : bobby_hero77@yahoo.com

(Wawancara 99 Orang Bicara Radikalisme dan Terorisme)


Sumber: Lazuardibirru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar