Senin, 08 April 2013

Pendukung Mursi Menang dalam Referendum Konstitusi Mesir




Konflik politik Mesir mulai reda setelah secara resmi pemerintah Mesir mengumumkan hasil referendum konstitusi di negeri seribu menara tersebut. Konstitusi baru Mesir mendapat persetujuan 64% rakyat Mesir, sedangkan sisanya 36% menolak, tapi suara yang setuju sudah memenuhi kouta untuk tidak diulanginya pemilihan kembali.

Pihak oposisi yang tidak puas dengan hasil tersebut terus menebar ancaman kepada Presiden Mursi. “Perjuangan dengan jalan damai akan tetap berlanjut untuk menggagalkan konstitusi,” ujar mereka. Mereka juga berjanji akan memenangkan Pemilu Parlemen di masa yang akan datang.

Sementara itu, Badan Pengawas Tertinggi Pemilihan mendapatkan sedikitnya 2200 pengaduan dari masyarakat mengenai kecurangan dan ketidaknetralan pemilihan pada fase kedua. Para pengamat politik menyebut hasil ini merupakan kemenangan bagi Presiden Mursi terhadap oposisi, dan hal ini memberi kesan yang baik terhadap Presiden Mursi setelah beberapa bulan yang lalu sempat tercoreng gara-gara jatuhnya beberapa korban dalam aksi demonstrasi.

Hanya saja beberapa pengamat lain malah meragukan hal itu. Menurut mereka berbagai peristiwa yang terjadi pada referendum konstitusi kemarin, justru semakin memperparah borok Presiden Mursi di masa-masa yang akan datang, dan yang perlu diwapadai adalah perolehan suara oposisi yang meningkat tajam. Menurut mereka hal ini akan menjadi sebuah kekuatan besar untuk menghadapi kekuatan politik Islam dan akan memperoleh berbagai kemenangan dalam beberapa tahun yang akan datang.

Di sisi lain, Abul Ma’athi, Ketua Badan Tertinggi Panita Pemilu yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan referendum tersebut menyatakan bahwa panitia pemilihan akan mengoreksi ulang hasil pemilihan, diantaranya dengan menghitung ulang jumlah pemilih yang hadir, suara yang sah dan suara yang tidak sah.

Sementara di pihak lain, pihak oposisi yang dimotori Front Penyelamat Mesir menyatakan bahwa hasil referendum kemarin banyak mengalami kecurangan. Menurut mereka kecurangan itu terjadi dengan beberapa kasus di lapangan, yaitu tidak adanya pengawas dari pihak kehakiman yang mengawasi pemilihan secara keseluruhan, terlambatnya proses pemungutan suara di berbagai TPS. Sehingga menyebabkan beberapa orang yang kelamaan menunggu giliran mencoblos terpaksa pulang tanpa memberikan suara mereka, dan adanya anjuran atau semacam penyuluhan kepada para pemilih untuk mencoblos “iya” oleh para petugas TPS.

Mereka menganggap hal itu merupakan kecurangan yang sangat nyata dan mereka juga telah melaporkan hal itu kepada panitia pemilihan.

Namun yang jelas rakyat Mesir sangat gembira dengan kesuksesan pemilihan tersebut yang berjalan lancar dan tidak ada kendala yang berarti, entah apa pun hasinya, yang terpenting bagi mereka Mesir kembali kondusif. (Absyaish).

Sumber: Lazuardi Birru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar