Jumat, 03 Mei 2013

Ada Juga Fatwa Haram Perayaan Tahun Baru Masehi

 



Jika di Indonesia ada fatwa haram mengucapkan Selamat Natal, di Kirgizstan, para ulama negeri pecahan Uni Soviet tersbut sepakat mengeluarkan fatwa yang isinya melarang perayaan tahun baru masehi. Ulama beralasan, tahun baru masehi bukanlah hari besar keagamaan.

Kepala Administrasi Agama Islam Kirgistan, Ravshan Eratov mengatakan umat Islam memiliki agenda sendiri yang patut untuk dirayakan. Misalnya, Idul Fitri dan Idul Adha.

Rami, seorang mahasiswa mengakui jika memang perayaan tahun baru tidak sesuai dengan ajaran Islam. Karenanya fatwa tersebut harus dipatuhi. “Kita perlu mengedepankan pertimbangan syariat sebelum melakukannya,” kata dia.

Pendapat berbeda datang dari seorang guru di Bishkek, Svetlana Ibrayeva. Ia menilai dalam perayaan pergantian tahun masyarakat mendapatkan banyak hal. Karenanya, tidak tepat melihat perayaan ini dari sisi buruknya saja.

“Kami tidak melakukan apa yang dapat melanggar ajaran agama. Kami hanya pergi ke luar, menyalakan kembang api,” ucapnya.

Kendati fatwa larangan perayaan tahun baru dikeluarkan, pemerintah tetap menempatkan pergantian tahun sebagai hari libur nasional. [Mh]

Sumber: Lazuardi Birru

Kamis, 02 Mei 2013

Perempuan Penyebar Perdamaian di Poso


 

Rasanya sulit bagi sebagian publik Indonesia menghapus Poso dalam ingatannya. Sebuah kota yang berada di tengah kepulauan Sulawesi ini pernah terluka akibat konflik horisontal beraroma agama di tahun 2000. Bagi orang “luar” Poso mungkin gambaran tragedi itu telah luruh. Meski bukan berarti sepenuhnya lupa. Namun bagi orang “dalam” Poso sendiri, tampaknya perih masih dirasakan afek dari tragedi yang benar-benar berdarah.
Bahkan hingga kini Poso tampaknya masih belum sepeuhnya tenang. Kasus terbaru terkait pembantaian warga oleh oknum yang tak bertanggung jawab Agustus lalu menambah daftar tragedi kekerasan dan teror di Poso. Tak heran jika trauma terasa kental hingga banyak warga tenggelam dalam ketakutan.
Mungkin terutama perempuan. Akibat tragedi yang terjadi, jangankan menyuarakan pendapat, berkumpul atau berkomunikasi dengan orang berbeda keyakinan pun tak berani. Benar-benar trauma yang begitu mendalam.

Namun kini perempuan Poso telah kembai pulih. Trauma dan ketakutan itu berubah menjadi kekuatan. Adalah Lian Gogali, perempuan kelahiran Poso, yang berjasa dalam rekonsiliasi sosial dan psikologis di antara para perempuan Poso dan warga Poso pada umumnya.

Sebagai perempuan Poso, Lian merasa terpanggil mengupayakan rekonsiliasi mengingat konflik telah memicu saling curiga, kebencian dan permusuhan antarwarga.
“Saya percaya, ada kebutuhan mendesak bagi perempuan untuk berbicara dan berpartisipasi aktif” ungkap Lian.

Dari sanalah kemudian Lian mendirikan Sekolah Perempuan. Sebuah wadah pendidikan untuk perempua-perempuan Poso. Di sekolah itu mata pelajaran yang diajarkan adalah toleransi dan perdamaian, gender-gender dan isu politik bahkan hingga pembangunan ekonomi.

Atas perjuangannya inilah Lian mendapatkan pernghargaan internasional dari Coexixt Foundation. Sebuah penghargaan untuk sosok “pahlawan” yang bekerja dan memperjuangkan isu perdamaian dan gerakan interfaith.[Mh]

Sumber: Lazuardi Birru

2012, Delapan Polisi Tewas di Tangan Teroris


 

Tahun ini bisa dibilang tahun duka bagi korps bhayangkara. Pasalnya, dalam setahun ini delapan anggota Polri meregang nyawa di tangan kelompok teroris. Dua polisi kehilangan nyawa di Solo, Jawa Tengah, dan enam polisi di Poso, Sulawesi Tengah.

Polri menjadi obyek serangan kelompok teror tentu bukan barang baru. Pada tahun 1981, aksi penyerangan kelompok Jamaah Imran terhadap Markas Kosekta 65 di Cicendo, Bandung menewaskan 4 anggota Polri.
Pada tahun 2005, pos pengamanan Brimob di Pulau Loki, Ambon diserang hingga mengakibatkan lima anggota Brimob yang sedang berjaga meninggal. Aksi ini dirancang oleh Djaja alias Asep Dahlan dan kelompoknya yang berafiliasi dengan Jamaah Islamiyah (JI). Asep kini  mendekam di Lapas Porong, Jawa Timur dengan pidana seumur hidup.

Namun jumlah korban tewas polisi pada tahun ini melampaui dua peristiwa silam di atas. Sehingga bisa dibilang, tahun 2012 ini permulaan “resmi” polisi sebagai target serangan teroris. Dulu kelompok teror yang berafiliasi dengan JI menargetkan fasilitas yang berbau Barat (far enemies) yang ada di Indonesia seperti orang asing, kedutaan, hotel, hingga kafe, lalu sempat mengombinasikan serangan ke Barat dan ke pemerintah Indonesia (close enemies). Namun pada 2012 ini fokus  serangan teror diarahkan pada close enemies khususnya polisi.

Pergeseran target ini sebenarnya telah lama diendus oleh Densus 88/Antiteror. Yakni saat mereka memeriksa isi dokumen di dalam laptop milik gembong teroris Noordin M Top yang disita saat penggerebekan di Jebres, Solo, Jawa Tengah, 17 September 2009.

Berdasarkan temuan di dalam laptop Noordin, saat itu Densus 88 menyatakan teroris mulai memodifikasi dan menggeser target mereka ke arah close enemies.
Kapolri Jenderal Timur Pradopo membenarkan pandangan tersebut. ”Benar. Kita yang dijadikan target karena kita di baris terdepan dalam pemberantasan terorisme, sehingga seolah-olah polisi yang harus dimusuhi. Pemahaman ini harus kita balik,” kata Kapolri.

Padahal, menurut mantan Kapolda Metro Jaya ini, polisi hanyalah menjalankan amanah undang-undang. ”Menyelesaikan ancaman terorisme tidak bisa hanya dengan penegakan hukum. Perlu langkah mulai dari preventif sampai penegakan hukum, Bila dalam memberantas terorisme polisi mengambil kebijakan keras, itu dimaksudkan untuk melindungi masyarakat. Jangan salah tafsir,” bebernya.

Sementara itu Wakapolri Komjen Nanan Soekarna menambahkan, gugur dalam tugas, adalah salah satu resiko sebagai polisi. “Kalau takut, jangan jadi polisi. lebih baik mengundurkan diri saja,” tandasnya.
Polisi yang bernasib malang pada 2012 adalah Briptu Eko Wijaya Sumarno yang tewas pada 22 Desember setelah dua hari dirawat di RS. Eko menyusul tiga orang rekannya Briptu Wayan, Briptu Ruslan, dan Briptu Narto yang diberondong peluru oleh kelompok teroris saat mereka berpatroli di Desa Tambarana, Poso Pesisir dan sekitar Gunung Kalora pada 20 Desember.

Sebelumnya, pada 16 Oktober, Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman, yang hilang sejak 8 Oktober, ditemukan tewas terkubur dalam satu lubang di Dusun Taman Jeka, Desa Masani, Poso. Di leher keduanya terdapat luka yang diduga akibat gorokan senjata tajam.

Keenam polisi malang ini diduga dihabisi oleh kelompok teroris yang  dipimpin oleh Abu Wardah alias Santoso alias Abu Yahya. Santoso yang masih buron itu mengatasnamakan kelompoknya sebagai Komandan Mujahidin Indonesia Timur dan menyebut dirinya sebagai Abu Mus’ab Al-Zarqawi Al-Indunesi.
Di Solo, Bripka Dwi Data Subekti yang sedang berjaga, meninggal saat Farhan, cs melakukan serangan terhadap pos polisi di Singosaren pada 30 Agustus. Sementara saat hendak menangkap Farhan pada Jumat 31 Agustus 2012, anggota Densus 88 bernama Bripda Suherman tewas tertembak di bagian perut. (sf)

Sumber: Lazuardi Birru