Jumat, 30 November 2012

Empat Pilar Bisa Jadikan Negara Kuat


 Empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadikan negara menjadi kuat. Dalam konsep Nabi Muhammad SAW, empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara adalah para pemimpin yang adil, para ulama yang menyamaikan ilmunya, para orang mampu yang dermawan, serta doanya orang-orang miskin.

Hal itu dikatakan mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto ketika menyampaikan sambutan pada peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1434 hijriyah, di Alun-alun Jayabakti Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (24/11/2012).

“Dalam sebuah hadits, Rasullah SAW berkata bahwa ada empat pilar yang menguatkan negara,” katanya.
Endriartono mengimbau masyarakat agar dapat memilih memimpin yang adil dan amanah, mulai dari pemimpin di tingkat yang paling tinggi hingga ke tingkat yang paling rendah. Sebab berdasarkan perkataan Nabi bahwa jika para pemimpin sudah berperilaku tidak adil dan tidak amanah, maka negara dan bangsa tersebut secara perlahan-lahan akan mengalami kehancuran.

“Salah satu upaya untuk dalam memilih pemimpin yang adil dan amanah adalah dengan berdoa dan beristikharah kepada Allah SWT,” katanya.

Pilar kedua, adalah para ulama yang menyampaikan ilmunya. Menurut dia para ulama agar dikembalikan fungsinya sebagai pemimpin dalam mencetak kesalehan sosial. Perhatian pemerintah terhadap pondok pesantren, madrasah diniyah, dan lembaga agama lainnya belum maksimal.

Pilar ketiga, adalah para orang mampu yang dermawan. Ia mengatakan munculnya kesenjangan sosial yang memicu konflik horzintal di tengah masyarakat, karena orang mampu tidak memiliki kepedulian terhadap fakir miskin dan anak yatim-piatu.

“Kesenjangan sosial selain memicu konflik horizontal juga menimbulkan persoalan sosial lainnya seperti, perjudian, pencurian, penjualan manusia, dan sebagainya,” ujarnya.
Pilar keempat adalah doanya orang-orang miskin. Ia berharap orang-orang miskin terus berdoa agar bangsa Indonesia diberikan pemimpin yang adil dan amanah, sehingga bisa membawa negara dan bangsa Indonesia menjadi kuat dan sejahtera.[wan]

Sumber: Lazuardi Birru

Pemimpin Agama Kurang Promosikan Nilai-Nilai Kemanusiaan





Radikalisme agama yang hingga saat ini masih bertebaran di mana-mana bukanlah bersumber dari faktor tunggal semata. Ada banyak hal yang bisa dijadikan sebagai causafenomena ini. Salah satunya menurut guru besar dan dosen UIN Jakarta, Dr. Musdah Mulia, adalah lantaran para pemimpin agama seringkali kehilangan niat untuk mempromosikan kemanusiaan.

Di Indonesia, seringkali para pemimpin agama memprimasikan aspek formal agama semata seperti berapa kali sembahyang, apa yang dipakai orang tersebut, apa yang dimakannya. “Hal-hal privat semacam itu yang menjadi urusan para pemimpin agama, sementara yang lebih penting (yaitu kemanusiaan) justru diabaikan” tutur Ibu Musdah Mulia.

Guru besar sekaligus dosen UIN Jakarta ini juga menambahkan jika hal itu terus berlanjut tidak menutup kemungkinan klaim agama sebagai penjaga perdamaian dapat dipertanyakan.

Dalam kondisi yang sudah sedemikian kompleks seperti sekarang ini, Musdah Mulia mengajak agar para pemimpin agama melakukan reinterpretasi atas ajaran-ajaran yang ada. Ia percaya bahwa agama itu sendiri sebenarnya tidak statis. Selalu ada interpretasi yang berbeda, sesuai dengan sikon agama tersebut. Dan justru dengan reinterpretasi itulah kebermaknaan agama bagi manusia tidak akan lrnyap ditelan zaman. [Mh]

Sumber: Lazuardi Birru

Indonesia Bisa Beri Dukungan Kemanusiaan dan Politik




Israel kembali melakukan serangan militer besar-besaran di Jalur Gaza. Serangan tersebut mengakibatkan puluhan warga Palestina meninggal dunia, ratusan lainnya mengalami luka-luka dan ratusan rumah serta bangunan hancur.
Pengamat politik Timur Tengah Hasibullah Satrawi mengatakan konflik Israel-Palestina adalah tantangan bagi tatanan perdamaian dan kemanusiaan. Karena itu, diharapkan negara-negara di dunia termasuk Indonesia bisa memberikan bantuan kemanusiaan dan perdamaian.

“Tapi agak berat kita bisa memberikan peran yang lebih maksimal karena konflik ini sudah melibatkan kekuatan global. Indonesia tak bisa berbuat banyak, misalnya agar Palestina merdeka karena ini sudah terlanjur melibatkan banyak negara,” ujarnya dalam roundtable discussion  bertajuk Siklus Kekerasan di Gaza; Mengapa Terjadi dan Apa Kontribusi Indonesia, di FISIP Universitas Indonesia, Depok, Jumat (23/11/2012).

Menurut dia Indonesia bisa memberikan peran yang terukur dengan mengirimkan bantuan seperti membangun rumah sakit di Palestina. Selain itu, perlu adanya kajian yang berkesinambungan tentang politik Timur Tengah khususnya jalur Gaza dan Israel. Informasi tersebut untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa yang terjadi di Timur Tengah bukan konflik agama.

“Konflik Israel-Palestina dianggap oleh masyarakat kita sebagai konflik agama, antara Islam dan nonmuslim. Ini menunjukan bahwa konflik Palestina belum dipahami sebagai konflk politik,” tandasnya.
Hasibullah meminta pendekatan yang digunakan untuk mendukung Palestina jangan justru membuat kekuatan global mengurangi dukungannya terhadap Palestina. Menurutnya perspektif yang harus digunakan adalah kemanusiaan dan kebangsaan.

Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Trias Kuncahyono mengatakan, Indonesia tak perlu mengirimkan orang untuk berperang ke sana. Menurutnya, Indonesia bisa berperan dengan memberikan dukungan politik atau kemanusiaan.

“Dukungan Indonesia sebagai negara muslim terbesar sangat diharapkan. Sekedar ngomong saja Indonesia perlu untuk di mata Timur Tengah dan dunia,” ujarnya.

Zainuddin Djafar, pengajar tetap FISIP menambahkan ada banyak cara untuk Indonesia bisa memainkan perannya. Misalnya, mengirimkan utusan khusus ke Presiden Mesir Mursyi atau Presiden Amerika Serikat Barack Obama agar menghentikan konflik tersebut.

“Kita memang perlu membuat konsep yang jelas untuk berkontribusi dalam perdamaian dunia,” ucapnya.[wan]

Sumber: Lazuardi Birru