Minggu, 05 Mei 2013

Terduga Teroris Poso Bersembunyi di Bima

 

Tujuh terduga teroris kelompok Poso dilaporkan sedang bersembunyi di Bima, Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah menempuh perjalanan dari Makassar, Sulawesi Selatan, menggunakan kapal laut.

“Informasi yang kami terima seperti itu. Ada tujuh orang dari Makassar ke Bima melalui jalur laut,” kata Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Polda) NTB Komisaris Besar Martono di Mataram, NTB, Kamis (27/12).

Ia juga membenarkan Tim Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror saat ini sedang memburu tujuh terduga teroris yang kemungkinan memiliki keterkaitan dengan jaringan Poso, Sulawesi Tengah. Tetapi hingga kini keberadaan tujuh terduga teroris itu belum terdeteksi, namun diyakini akan segera terungkap jika benar mereka berada di Bima dan sekitarnya.

Oleh karena itu, Martono mengimbau semua pihak, termasuk aparat kepolisian meningkatkan kewaspadaan karena dikabarkan yang diincar teroris mengarah kepada aparat kepolisian, seperti yang terjadi di daerah lain.

“Sebaiknya koordinasi dan kerja sama dengan aparat kepolisian dan satuan pengamananan lainnya. Juga dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama, agar dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya. (sf)

Sumber: Lazuardi Birru

Sabtu, 04 Mei 2013

Barat Jarang Bahas Kesuksesan Imigran Muslim


 

Isu Muslim tengah menghangat di Eropa dan Amerika Utara. Selama satu dekade terakhir, isu tentang Islam justru menjadikan komunitas Muslim sasaran tembak. Mereka yang anti-muslim, khususnya yang menganut haluan politik sayap kanan di Eropa, kerap mengangkat isu provokatif tentang Islam.

Doug Sanders, peneliti masalah imigran mengatakan isu tentang Islam menilai semua prasangka buruk itu terjadi karena ketakutan. Ketakutan yang dipicu serangkaian aksi teror yang dilakukan orang yang kebetulan beragama Islam. Celakanya, hal negatif tersebut langsung digeneralisir sebagai ulah keseluruhan umat Muslim.

 ”Namun, dapat saya pastikan, agama bukanlah penyebab utama dari isu (diskriminasi muslim di Eropa) tersebut,” kata Doug Sanders.

Yang disayangkan lagi, kata Doug, dunia Barat jarang membahas keberhasilan kelompok imigran Muslim.  Padahal, di New York misalnya, komunitas Muslim telah bertransformasi menjadi kalangan berada. “Anda bisa bandingkan dengan komunitas Irlandia, Katolik Eropa Selatan, Hispanik dan Yunani di New York, mereka membentuk satu komunitas yang dipandang sebagai kriminal,” kata dia.

Contoh lain, lanjut Doug, adalah komunitas Turki. Komunitas ini boleh dikatakan sangat menonjol. Dalam hal ini, taraf pendidikan imigran Turki jauh lebih baik ketimbang imigran lainnya di berbagai belahan dunia. [Mh]

Sumber: Lazuardi Birru

Jumat, 03 Mei 2013

Aksi Represif Polisi Memicu Balas Dendam Teroris

 



Terbunuhnya delapan anggota Polri di tangan teroris sepanjang tahun 2012 ini memicu beberapa analisis. Salah satu pandangan yang dikemukakan adalah aksi serangan terhadap anggota korps bhayangkara itu merupakan ekspresi balas dendam kelompok teroris terhadap polisi yang dinilai bertindak represif terhadap jaringan mereka.

“Penangkapan yang dibarengi dengan aksi kekerasan seperti kasus penembakan terhadap Khoiri, terduga teroris asal Bima pada November lalu, justru memupuk dendam dalam kelompok mereka,” ujar Muhammad Miqdad, Direktur Eksekutif Institut Titian Perdamaian (ITP), LSM di Jakarta yang memiliki program CEWARS (Conflict Early Warning System) di Poso, kepada Lazuardi Birru.
Pria asli Palu, Sulteng ini berkisah, dirinya pernah menyaksikan prosesi pemakaman salah satu DPO kasus terorisme yang tertembak mati oleh polisi. Saat itu ia mendengar teriakan ‘ini belum selesai, tunggu pembalasan kami.’

Lebih lanjut ia menganalisis selebaran yang berisi tantangan perang kelompok Santoso terhadap polisi namun melarang keterlibatan TNI. Baginya, hal itu murni ekspresi balas dendam.
“Jika memang mereka menganggap Negara ini thaghut, sehingga seluruh instrumennya juga thaghut yang boleh diperangi, maka TNI juga akan mereka ajak perang. Namun ternyata mereka hanya mengincar polisi. Itu lantaran polisi merupakan instrumen Negara terdepan yang berhadapan dengan kelompok teror,” ujarnya.
Sementara itu pengamat terorisme Ali Fauzi berpandangan, saat ini polisi dijadikan target number one oleh kelompok teroris karena mereka terpapar oleh fatwa dari Abu Musab al-Zarqawi.
Al-Zarqawi adalah warga Yordania yang sempat mengelola kamp paramiliter di Afghanistan dan bergabung dengan Alqaeda sebelum tewas di Irak pada  2006.

“Al-Zarqawi mengeluarkan fatwa wajibnya membunuh polisi yang melindungi  pemerintahan thaghut. Fatwa ini dikeluarkan di Irak. Tak peduli jika polisi itu Islam sekalipun,” kata adik dari terpidana teroris Bom Bali Ali Imron ini seperti dikutip beritasatu.com.

Al-Zarqawi ini juga membuat kelompok bernama al-Tawhid wal-Jihad yang  kemudian di Indonesia, namanya di-copy paste oleh kelompok yang dikomandoi Yadi al Hasan alias Abu Fatih alias Vijay.
Kelompok Yadi inilah yang mendalangi bom bunuh diri di Mapolres Cirebon  pada 15 April 2011 dan meledakan bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton, Solo pada 25 September 2011. (fq)

Sumber: Lazuardi Birru