Selasa, 02 April 2013

Presiden: Poso Tidak Boleh Menjadi Basis Kelompok Bersenjata





Presiden SBY menyoroti kasus penyerangan kelompok sipil bersenjata terhadap rombongan patroli personel Brimob Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) di kawasan Gunung Kalora, Desa Tambarana, Poso Pesisir, Kabupaten Poso Sulteng hingga menewaskan 3 anggota Brimob pada Kamis (20/12/2012).

Menurut Presiden, apa yang terjadi di Poso tidak bisa dianggap sebagai kejadian yang biasa. Harus diambil langkah tepat, tegas, dan benar oleh Polri dengan dibantu TNI sesuai Undang-undang.

“Dengan tujuan melindungi rakyat dari kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab, aparat keamanan harus mencegah Poso menjadi tempat bagi aktivitas bersenjata, dan pastikan daerah itu aman. Juga saya sampaikan harus lebih waspada tidak lalai, apakah itu petugas kepolisian maupun tentara kita,” tegas Presiden seperti dikutip detikcom, Jumat (21/12/2012).

Lebih jauh Presiden menandaskan bahwa tidak boleh ada kelompok sipil bersenjata, meski dengan alasan untuk pengamanan.

“Tidak boleh di negeri ini ada elemen sipil bersenjata, seberapa pun besarnya. Itu prinsipnya. (Pengamanan bersenjata) dilakukan oleh petugas kepolisian dibantu oleh TNI sesuai dengan UU yang telah ditetapkan. Oleh karena itulah perlu langkah yang tegas, sigap dan tuntas,” ujar

Menurut SBY sudah bertahun-tahun lamanya pemerintah berusaha menyelesaikan konflik di Poso dan Ambon. SBY sendiri mengaku sudah berkali-kali mengunjungi Poso beberapa waktu lalu.
“Oleh karena itu, apa yang sudah baik jangan sampai robek kembali. Hukum harus ditegakkan rakyat harus dilindungi,” tutupnya.

Sebelumnya, tiga personel Brimob Polda Sulteng gugur dalam baku tembak dengan kelompok teror. Mereka adalah Briptu Wayan Putu Ariawan, Briptu Winarto, Briptu Ruslan. Sementara tiga personel lainnya mengalami luka tembak, mereka adalah Briptu Eko Wijaya Sumarno, Briptu Lungguh Anggara, Briptu Siswandi. (sf)

Sumber: Lazuardi Birru

Senin, 01 April 2013

Alansar 007 “Bertanggung Jawab” Atas Serangan Polisi Poso




Lewat dunia maya, kelompok yang menamakan diri Alansar007 secara implisit mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan 3 anggota Brimob saat melakukan patroli di Desa Kalora, Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (20/12/2012).
Dalam weblog tersebut, mereka mengusung slogan Sariyyatu Tsa’ri Waddawaa’ yang artinya kurang lebih operasi balas dendam sebagai obat luka. Situs itu mengutuk pemimpin-pemimpin Indonesia dari Presiden Soekarno hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak menerapkan syariat Islam.

Berikut petikan pernyataan perihal aksi penyerangan terhadap rombongan patroli Brimob yang dimuat dalam weblog tersebut.

“Sungguh kabar yang melegakan kita semua, di mana para Mujahidin Indonesia Timur dengan Idzin Allah Ta’ala berhasil melakukan serangkaian amaliyah di wilayah Poso dan sekitarnya, berikut Informasi yang bisa kami himpun hingga saat ini :

Amaliyah Penembakan terhadap Para Thaghut di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, di mana Para Thoghut mereka membikin markas baru di desa tersebut, di desa yang sebelumnya mereka membunuh Seorang Ustadz Mujahid yang Mulia, Ustadz Muhammmad Khoiri S.Sa. Dalam Amaliyah ini menewaskan 2 Tentara Thoghut laknatullah dan melukai 3 lainnya, yang kini langsung dibawa ke RS Poso 2 orang dan RS Parigi 1 orang.”

Mereka menyebut aksi tersebut sebagai pembalasan atas tindakan Tim Densus 88 yang dianggap menzalimi mereka.

Hingga berita ini ditulis belum ada keterangan dari pihak kepolisian mengenai siapa pembuat weblog tersebut. (sf)

Sumber: Lazuardi Birru

Mogok Kerja Membuat Palestina Lumpuh



Para pegawai pemerintahan Palestina sudah dua hari melakukan mogok kerja, mereka menuntut pembayaran gaji yang sudah dua bulan belum terlunasi. Mogok kerja ini dilakukan oleh para pegawai pemerintah yang meliputi pengelola sekolah-sekolah, para pegawai yang berada di bawah naungan berbagai kementerian dan para pegawai di berbagai instansi-instansi pemerintah lainnya.

Belum jelas sampai kapan keterlambatan pembayaran gaji para pegawai ini, mengingat tidak ada kepastian yang diberikan oleh pemerintah Palestina sendiri, bahkan Perdana Menteri Palestina, Salam Fayed tidak berani berjanji kapan gaji para pegawai tersebut bisa dilunasi. “Belum ada kepastian sampai kapan gaji mereka bisa terbayar,” jelasnya.

Kenyataan ini semakin memperburuk nasib ekonomi warga Palestina, menurut ketua aliansi pegawai Palestina, kondisi ekonomi rakyat Palestina khususnya para pegawai semakin memperihatinkan, “Mereka (para pegawai. red) bahkan tidak mampu membayar ongkos transportasi untuk sampai ke kantor-kantor mereka,” ujarnya.

Para pegawai menuntut pelunasan gaji untuk bulan November yang seharusnya sudah mereka terima beberapa hari ini, dan tidak lama dari itu pencairan gaji untuk bulan Desember yang seharusnya mereka terima dalam waktu dekat ini.

Pemerintah Palestina sebenarnya sudah mengalami krisis sejak dua tahun terakhir, tapi krisis itu semakin memburuk sejak satu bulan ini, karena Israel menahan dana hasil pajak dan cukai milik Palestina sebagai bentuk hukuman dari Pemerintah Israel, karena Pemerintah Palestina mengajukan diri sebagai Negara pengawas non anggota kepada PBB dan berhasil mendapat pengakuan.

Satu-satunya solusi yang sedang ditunggu oleh Pemerintah Palestina adalah kucuran dana bantuan sebesar 100 juta dolar dari Negara-negara Arab yang sudah diputuskan dalam konferensi liga Arab di Irak  pada bulan Maret 2012 lalu. Dana ini dianggap bisa membantu meringankan krisis ekonomi Palestina, sehingga pantas ketika Perdana Menteri Palestina sangat berharap Negara-negara Arab segera mengucurkan dana tersebut.

“Kami tidak punya tongkat sihir yang bisa merubah keadaan ini, jadi kami sangat berharap Liga Arab segera mengadakan pertemuan darurat untuk membahas masalah ini, karena keadaan ini akan semakin buruk jika Liga Arab tidak bisa memberi kucuran dana dalam jumlah besar dan dalam waktu dekat pula,” ujar Fayed.
Kondisi Palestina akan semakin buruk jika tidak segera ada dana talangan gaji para pegawai tersebut, karena selain para guru dan para pegawai di bawah kementerian yang sudah melakukan mogok kerja, kini para dokter dan para pegawai rumah sakit lainnya juga akan melakukan mogok kerja. Dan Palestina yang lumpuh total hanya tinggal menunggu waktu saja.[ Absyaish]

Sumber: Lazuardi Birru