Selasa, 04 Desember 2012

Ribuan Muslim di Mali Tolak Ekstremisme Agama



Ribuan warga Mali berkumpul di Bamako, ibu kota Mali, Sabtu (24/11/2012). Mereka menentang ekstremisme atas nama agama dan pendudukan bagian negara Mali Utara oleh kubu muslim garis keras.
Ulama muslim terkenal Mali, Cherif Ousmane Madani Haidara, turut hadir dalam aksi massa itu. “Negara kita telah mengenal Islam selama abad. Kami tidak menerima ekstremisme agama yang kini mendera Mali utara,” kata Haidara di hadapan massa.

Aksi demonstrasi di negara bagian Afrika barat ini dihadiri para wakil dari partai-partai, para pemimpin agama serta mantan pemimpin kudeta Kapten Amadou Sanogo.

 ”Aksi protes ini juga merupakan keinginan seluruh warga negara agar bersatu dan bisa mengusir musuh negara,” kata Ketua Parlemen Mali, Ynousssi Toure. (sf)

Sumber: Lazuardi Birru

Problem Poso Jangan Didekati Dengan Kekerasan


Poso, Sulawesi Tengah terbukti masih menjadi ladang subur pertumbuhan kader teroris baru. Kasus mutakhir adalah penangkapan tiga orang terduga teroris di Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah, Minggu dinihari, 25 November 2012.

Kenyataan tersebut menurut Muhammad Miqdad, Direktur Eksekutif Institut Titian Perdamaian (ITP), LSM di Jakarta yang memiliki program CEWARS (Conflict Early Warning System) di Poso, salah satunya dipicu aksi represif aparat terhadap kelompok-kelompok teror di Poso.

“Penangkapan yang dibarengi dengan aksi kekerasan seperti kasus penembakan terhadap Khoiri, terduga teroris asal Bima awal bulan ini, justru memupuk dendam dalam kelompok mereka sehingga membuat para kadernya tersulut untuk menjadi teroris,” ujar Miqdad kepada Lazuardi Birru, Sabtu (23/11/2012).

Pria asli Palu, Sulteng ini berkisah, dirinya pernah menyaksikan prosesi pemakaman salah satu DPO kasus terorisme yang tertembak mati oleh polisi. Saat itu ia mendengar teriakan ‘ini belum selesai, tunggu pembalasan kami.’

“Peristiwa Januari 2007 di mana Densus 88 melakukan operasi penangkapan terhadap DPO terorisme di Tanah Runtuh, Poso, hingga menewaskan beberapa terduga teroris dan seorang polisi karena baku tembak, itu jelas memicu kemarahan dan dendam. Walhasil terjadilah penembakan polisi di Kantor Cabang BCA di Palu pada 2011 dan terakhir pembunuhan 2 polisi di Poso Pesisir,” urai Miqdad yang baru saja kembali dari Poso sebelum wawancara dilakukan.

Lebih lanjut ia menganalisis selebaran yang berisi tantangan perang kelompok radikal di Poso terhadap polisi namun melarang keterlibatan TNI. Baginya, hal itu murni ekspresi balas dendam.
“Jika memang mereka menganggap Negara ini thaghut, sehingga seluruh instrumennya juga thaghut yang boleh diperangi, aka TNI juga akan mereka ajak perang. Namun ternyata mereka hanya mengincar polisi. Itu lantaran polisi merupakan instrumen Negara terdepan yang berhadapan dengan kelompok radikal di Poso,” ujarnya.

Karena itu, dalam hemat Miqdad, menangani persoalan kelompok-kelompok radikal di daerah pasca-konflik seperti Poso tidak boleh dengan cara kekerasan. Pasalnya mereka punya pengalaman traumatis terlibat aksi kekerasan dalam konflik horisontal. Saat konflik, mereka berani nekad lantaran dendam atas terbunuhnya saudara, kerabat, atau koleganya di depan mata mereka.

“Memutus mata rantai kekerasan dengan kekerasan hanya akan memunculkan kekerasan baru. Tidak akan ada proses perdamaian yang langgeng dengan cara kekerasan. Semua strategi penanganan masalah di daerah pascakonflik patut dicoba, asalkan tidak dengan kekerasan,” tutupnya. (fiQ)

Sumber: Lazuardi Birru

Pilpres 2014, Momentum Regenerasi Kepemimpinan Bangsa?



Banyak kalangan menilai Pemilihan Presiden 2014 nanti adalah waktu yang tepat untuk proses regenerasi kepemimpnan bangsa. Artinya pada Pilpres mendatang hendaknya kaum muda turut tampil mencalonkan diri sebagai presiden atau wakilnya.

Wacana capres muda memang sebelumnya cukup menghangat di ranah publik. Namun menurut Forum Keluarga Besar Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI 1966) hal itu berhenti di level wacana. Dan jika di tahun 2014 nanti hal tersebut terulang kembali, maka akan terjadi proses kemunduran dalam regenerasi.

“Usulan sejumlah partai, seperti Golkar, untuk merekrut cawapres dari kalangan muda harus kita apresiasi untuk memuluskan proses regenerasi di negeri yang kita cintai ini,” kata Ketua Umum FKB KAPPI 1966, Bambang Heryanto.

“Banyak figur berkualitas dari kalangan muda yang potensial dan memiliki pengalaman (track record), baik di masyarakat maupun pemerintahan. Jangan sampai potensi mereka terbonsai karena tidak ada peluang yang diberikan,” tambah Bambang.

Dia menilai sejumlah nama pantas menjadi calon wakil presiden seperti Puan Maharani (PDI Perjuangan), Anies R Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang dikenal dengan Ibas (Partai Demokrat), Yenni Wahid (PKBIB), Moh Jumhur Hidayat (Kepala BNP2TKI), serta Jeffrie Geovanie (Partai Nasdem).

Tokoh-tokoh muda tersebut, menurut dia, sudah cukup dikenal masyarakat dan terbukti memiliki rekam jejak yang baik. Jika mereka diberi kesempatan untuk tampil, maka pilpres akan lebih dinamis dan mengakomodasi keinginan rakyat. [Mh]

Sumber : Lazuardi Birru