Senin, 03 Desember 2012

Dahulukan Ukhuwah Islamiyyah daripada Perbedaan


Berbeda dengan masa-masa Nabi, umat Islam yang eksis hingga saat ini telah terpecah-pecah dalam berbagai macam pemikiran dan ideologi. Memang kondisi seperti ini jauh-jauh hari sudah diramalkan oleh Muhammad SAW itu sendiri. Artinya fenomena berserakannya aliran-aliran Islam bisa jadi merupakan takdir perjalanannya.

Menurut Dr. H. Asep Usman Ismail, MA perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam lantaran egoisme yang lebih berpikir mementingkan kepentingannya sendiri. Bisa dikatakan faktor kepentingan ini berkaitan dengan dimensi kekuasaan atau politik.

Islam mengajarkan bahwa setiap muslim adalah bersaudara. Selebar atau sedalam apapun perbedaan itu, hendaknya satu hal yang harus diingat oleh semua muslim, yaitu bahwa ukhuwah islamiyyah adalah hal yang paling utama.

Senada dengan itu, Ust. H. Bobby Herwibowo, Lc menyatakan bahwa Allah memerintahkan umatnya untuk saling tolong menolong dalam urusan kebaikan dan ketakwaan, bukan sebaliknya. Karena itu, menurut ustad Boby, tidak ada kita mengatasnamakan ukhuwah islamiyyah untuk memusuhi orang lain. [Mh]

Sumber: Lazuardi Birru

Pesantren Tanamkan Pendidikan Kenegaraan


Pondok pesantren adalah tempat untuk mendidik moral dan rasa cinta tanah air kepada generasi muda. Karena itu, tidak benar kalau pondok pesantren dikabarkan sebagai sarang teroris. Sebab, sebagian besar pondok pesantren modern sudah menanamkan pendidikan kenegaraan.

“Kalau ada pondok pesantren di media yang dikabarkan menjadi sarang teroris, itu perlu ditanyakan apakah pahamnya murni NKRI atau tidak,” ujar Ketua Festival Akbar Santri Jawa Timur 2012 Ahmad Maulana seperti dilaman Antara, Minggu (25/11/2012).

Festival tersebut digelar mahasiswa beasiswa santri Kementerian Agama (CSS Mora) Universitas Airlangga Surabaya. Dalam festival itu digelar aneka lomba antara lain kaligrafi, majalah dinding Islami tiga dimensi, lomba banjari, lomba komik Islami, membaca kitab kuning, dan membaca cerita Islam.

Maulana mengatakan melalui festival ini paradigma keliru tentang santri yang masih ada dalam masyarakat bisa ditepis. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan membudayakan persaingan sehat di kalangan pesantren, sehingga mereka punya rasa percaya diri.

Kasi Bidang Pengembangan Santri dari Kanwil Kemenag Jatim Ahmad Fauzan menyatakan sudah selayaknya santri terus berprestasi demi kemajuan bangsa. Ia mengingatkan agar para santri tidak hanya mengembangkan iman dan taqwa namun juga ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Selanjutnya berkiprahlah di bidang keagamaan, ekonomi sosial dan kemasyarakatan serta jadilah generasi pemimpin bangsa yang bermoral,” ujarnya.[wan]

Sumber: Lazuardi Birru

Polisi Tangkap 3 Terduga Teroris Poso


Kepolisian berhasil menangkap tiga orang terduga teroris di Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah, Minggu dinihari, 25 November 2012. Ketiga orang tersebut adalah SH (32), MF (27), dan MZ (25). Mereka ditangkap di jalan Tadulako, Kecamatan Ampana Kota.

Penangkapan itu dibenarkan Kapolda Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Dewa Parsana. Menurutnya, penangkapan berawal dari aksi pencurian sepeda motor. Namun polisi curiga dengan sejumlah barang bukti yang ikut disita pada saat penangkapan.

Sebab selain dua sepeda motor tanpa pelat, polisi juga menemukan barang bukti mencurigakan. “Terdapat satu senjata api revolver dengan 5 butir amunisi, selebaran tantangan perang terhadap Densus 88, sebuah laptop, buku-buku tentang jihad, serta cairan diduga bahan bahan pembuatan bahan peledak,” kata Dewa seperti dilansir VIVAnews.

Ketiga orang yang memiliki alamat sama, yakni di Jalan Moh. Hatta, Kecamatan Ampana Kota, sehari-harinya berprofesi sebagai pedagang. SH sebagai penjual mi ayam, sedangkan MF dan MZ pedagang serabutan.

Sementara itu Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Suhardi Alius, di Jakarta, Senin (26/11/2012) memastikan bahwa ketiganya merupakan jaringan kelompok Santoso. Lebih lanjut, Suhardi menerangkan bahwa ketiganya berperan sebagai pencari dana melalui aksi fai’.
“Mereka mencari dana untuk kegiatan terorisme dengan mencuri motor,” tandas Suhardi seperti dilansir laman tempo.co .

Santoso merupakan buronan teroris paling dicari aparat polisi saat ini. Santoso adalah Anggota Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) yang diduga terlibat dalam sejumlah aksi teror, termasuk aksi penembakan tiga anggota Polisi di BCA Palu pada 25 Mei 2011 dan dua polisi yang ditemukan tewas saat menyelidiki kasus terorisme di daerah Poso.

Santoso sempat memimpin pelatihan teroris di Poso. Pelatihan teroris di Poso kemudian melahirkan sel-sel teroris baru seperti teroris Thoriq dari Tambora, Jakarta Barat dan kawan-kawan yang terkait dengan jaringan Solo. (sf)

Sumber: Lazuardi Birru