Rabu, 26 Desember 2012

Masyarakat Harus Kritis Agar Tak Mudah Terprovokasi Media



Peneliti Media dan Komunikasi Politik The Habibie Center, Wenny Pahlemy mengatakan, pers sebagai pilar keempat demokrasi sangat berperan penting dalam menggiring opini publik, termasuk juga dalam upaya menciptakan perdamaian. Namun, kadangkala fungsi media sebagai kontrol sosial dan pendidikan bagi khalayak kerap disalahgunakan.

Karena itu, kata Wenny, perlu upaya kritis agar khalayak bisa memfilter informasi yang termaktub dalam pelbagai pemberitaan. “Di satu sisi kebebasan pers menjadi nilai lebih dan kemajuan, karena sebelumnya hanya isu-isu tertentu yang bisa diekspos. Namun kebebasan pers pascareformasi bukan berarti tidak berpotensi negatif,” kata dia pada Lazuardi Birru, di Jakarta.

Salah satu dampak negatifnya, lanjut Dosen Universitas Mercu Buana ini, adalah sulitnya mengontrol substansi pemberitaan, terutama media online. Bahkan, tidak sedikit internet yang memuat tentang paham radikalisme dan provokasi. “Membuat blog, website sangat mudah. Bikin blog itu kan gratis, kemudian ada lagi sosial media, akhirnya ide apapun bisa di ekspresikan,” ungkap dia.

Selaian mudahnya proses pembuatan media, Wenny juga menyayangkan berita atau tulisan yang tidak jelas sumbernya. Penulis dan narasumbernya anoname. Tidak mengindahkan prinsip-prinsip jurnalisme, seperti akurasi data. Ia juga menyayangkan berita atau tulisan yang cenderung provokatif.
Menurut Wenny, media sah-sah saja punya keberpihakan, namun harus tetap fair. Tapi meski berpihak sebuah media harus tetap menjaga prinsip-prinsip jurnalistik. “Misalnya akurasi itu penting walaupun dia berpihak kepada salah satu kelompok. Harus dipisah antara opini dengan fakta,” demikian Wenny mencontohkan.

Menurut pengamatan Wenny, media yang cukup mempengaruhi opini publik masih banyak didominasi media cetak dan televisi. Sedang media online belum begitu kuat pengaruhnya sebab hanya diakses oleh orang tertentu. “Coba cek seberapa banyak yang mengakses media online, apalagi media online yang tidak terkenal. Lebih banyak orang mengakses facebook,” jelas Wenny.

Tugas pembaca, kata Wenny, adalah memfilter isi media dan memperhatikan akurasinya. Karena media kebanyakan hanya memberikan satu perspektif saja yang kebetulan berbeda. Masyarakat yang tidak kritis nerima saja perspektif itu. Menurut dia, masyarakat harus cerdas dan juga harus aktif, kritis melihat sumber-sumber lain. “Ketika ada isu tertentu, coba cek ditempat atau media yang lain. Jadi akhirnya punya pemahaman yang lumayan utuh,” sarannya.[Az]


Sumber: Lazuardi Birru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar